Senin, November 28

Coronavirus (COVID-19) Pandemic

coronavirus
Sumber : Google

Coronavirus (COVID-19) Pandemic – Coronavirus disease 2019 atau disingkat menjadi COVID-19 adalah penyakit baru yang disebabkan oleh virus dari golongan Coronavirus, yaitu SARS-CoV-2 yang juga sering disebut virus Corona.

COVID-19 adalah penyakit akibat infeksi virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, mulai dari gejala yang ringan seperti flu, hingga infeksi paru-paru, seperti pneumonia.

Menurut World Health Organization (WHO) penyakit coronavirus atau lebih dikenal dengan sebutan COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Virus dapat menyebar dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi dalam partikel cairan kecil ketika mereka batuk, bersin, berbicara, bernyanyi atau bernapas. Partikel-partikel ini berkisar dari tetesan pernapasan yang lebih besar hingga aerosol yang lebih kecil.

Kebanyakan orang yang terinfeksi virus tersebut akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus. Namun, beberapa akan menjadi sakit parah dan membutuhkan perhatian medis. Orang tua dan mereka yang memiliki kondisi medis yang mendasarinya seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, atau kanker lebih mungkin mengembangkan penyakit serius. Siapa pun bisa sakit COVID-19 dan menjadi sakit parah atau meninggal pada usia berapa pun.

Jenis-Jenis Coronavirus (COVID-19) & Gejalanya

Dari data yang dikeluarkan oleh WHO, sampai saat ini sudah ditemukan beberapa varian SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Berikut rincian jenis varian baru tersebut:

  • Varian Alfa (B.1.1.7) : Pertama kali ditemukan di Inggris pada September 2020.
  • Varian Beta (B.1.351/B.1.351.2/B.1.351.3) : Pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada Mei 2020.
  • Varian Gamma (P.1/P.1.1/P.1.2) : Pertama kali ditemukan di Brazil pada November 2020.
  • Varian Delta (B.1.617.2/AY.1/AY.2/AY.3) : Pertama kali ditemukan di India pada Oktober 2020.
  • Varian Omicron (B.1.1.529) : Pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada November 2021.
    Varian Omicron merupakan varian utama virus penyebab COVID-19 yang saat ini sedang menyebar luas. Varian Omicron terdiri dari beberapa subvarian, yaitu BA.1, BA. 1.1, BA.2, dan BA.3.

Pencegahan Penyebaran COVID-19

Diketahui virus corona berkembang biak lebih cepat di dalam tubuh, meskipun tidak menimbulkan gejala apa pun. Potensi untuk menularkan banyak orang karena merasa sehat lebih tinggi dibandingkan seseorang dengan gejala. Maka dari itu, penting untuk mengetahui cara yang paling tepat sebagai pencegahan dari COVID-19.

5M adalah metode gagasan pemerintah untuk menekan kenaikan angka dari COVID-19, antara lain:

  1. Menggunakan masker
    Masker merupakan cara yang paling efektif untuk pencegahan penyebaran COVID-19. Alat ini harus digunakan terutama saat berada di tempat umum atau saling berinteraksi dengan orang lain. Penutupan pada mulut dan hidung mampu menurunkan risiko penyebaran virus yaitu dengan memblokir tetesan air liur agar tidak masuk ke tubuh. Sebaran melalui udara dapat terjadi sehingga perlu digunakan saat kamu berasa di dalam ruangan yang ber-AC.
  2. Mencuci tangan
    Cobalah untuk lebih sering mencuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik setelah melakukan beberapa aktivitas, seperti menyentuh suatu benda, memegang bagian depan masker, hingga menyentuh hewan. Kamu juga perlu mencuci tangan sebelum makan dan juga menyentuh wajah. Jika air dan sabun tidak memungkinkan, gunakan hand sanitizer dengan kandungan minimal 60% alkohol.
  3. Menjaga jarak
    Saat berada di luar rumah, pastikan untuk menjauhkan diri sekitar 1–2 meter. Selain itu, hindari juga ruangan tertutup dan lebih banyak aktivitas di ruangan terbuka yang menyediakan udara segar.
  4. Menjauhi kerumunan
    Jika ingin melakukan interaksi dengan beberapa orang, pastikan berada di luar ruangan, menggunakan masker, dan tidak lebih dari 5 orang. Intensitas dan jumlah orang sangat berpengaruh terhadap tingkat risiko yang dapat terjadi.
  5. Mengurangi mobilitas
    Setiap orang harus benar-benar menanamkan pemahaman jika keperluannya tidak terlalu mendesak, ada baiknya untuk tetap di rumah. Meskipun merasa sehat, belum tentu saat berada di rumah tetap dalam keadaan yang sama atau menyebarkan virusnya pada keluarga di rumah. Tingkatkan perhatian terlebih lagi jika terdapat orang tua atau anak-anak di rumah yang masih rentan terhadap COVID-19.

Pentingnya untuk mempraktikkan etiket pernapasan, misalnya dengan batuk ke siku yang tertekuk, dan tinggal di rumah dan mengisolasi diri sampai Anda pulih jika Anda merasa tidak enak badan.

Daftar Vaksin COVID-19 di Indonesia

Vaksinasi dilakukan untuk membangun dan membantuk sistem kekebalan tubuh yang berguna melawan penyakit, salah satunya COVID-19. Di Indonesia sendiri, program kesehatan ini telah melibatkan beberapa jenis vaksin COVID-19 yang telah teruji dan disetujui penggunaannya.

Dilansir dalam artikel Hellosehat, berikut ini jenis-jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia.

  1. Vaksin Sinovac
    Vaksin CoronaVac atau disingkat menjadi Sinovac merupakan vaksin covid-19 yang berasal dari virus yang telah dimatikan (inactivated virus). Vaksin Sinovac dianjurkan untuk anak-anak berusia 6-11 tahun, remaja, dewasa dan lansia. Dosisnya yakni 0,5ml diberikan sebanyak dua kali dengan jarak waktu 14-28 hari setelah dosis pertama. Efek samping setelah diberikan vaksin ini yaitu sakit kepala, nyeri pada area suntikan, dan rasa lelah. Maka dari itu dokter menyarankan untuk mengkonsumsi paracetamol jika diperlukan.
  2. Vaksin AstraZeneca
    Universitas Oxford mengembakan vaksin AstraZeneca dan vaksin ini masuk ke dalam tipe vektor adenovirus non-replikasi (non-replicated viral vector). Jenis vaksin ini diberikan dalam dosis 0,5ml sebanyak dua kali dengan jarak waktu 8-12 minggu setelah pemberian dosis pertama. Efek samping yang dirasakan setelah pemberian vaksin ini yaitu nyeri pada area suntikan, rasa lelah, meriang, sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot dan nyeri sendi. Maka dari itu untuk varian vaksin ini perlu penanganan dokter lebih lanjut.
  3. Vaksin Modern
    Jenis vaksin mRNA atau yang lebih dikenal dengan nama Moderna berisikan genetik virus yang memberikan instruksi kepada sel untuk memproduksi antigen SARS-CoV-2 sehingga tubuh akan membentuk respon imun. Vaksin moderna diberikan kepada orang yang berusia 18 tahun atau lebih. Dosis 0,5ml diberikan sebanyak dua kali dengan jarak waktu 28 hari setelah dosis pertama. Efek samping setelah pemberian vaksin ini yaitu pusing, mual, muntah, nyeri otot, nyeri sendi, rasa lelah, meriang, demam dan sakit pada area suntikan.
  4. Vaksin Sinopharm
    Beijing Institute of Biological Products Co., Ltd telah mengembangkan varian vaksin Sinopharm. Vaksin Sinopharm menggunakan platform inactivated virus untuk menstimulasi sistem kekebalan tubuh tanpa adanya risiko menyebabkan penyakit. Jenis vaksin ini dianjurkan untuk yang berusia 18 tahun atau lebih. Pemberian dosis 0,5ml diberikan sebanyak dua kali dengan jarak waktu 21-28 hari setelah pemberian dosis pertama. Efek samping yang dirasa mungkin hanya memicu sakit kepala. Namun sebagian orang bisa merasakan gejala demam, rasa lelah, mual, diare, nyeri otot dan nyeri sendi.
  5. Vaksin Pfizer
    Vaksin kedua yang bertipe mRNA yaitu vaksin Pfizer. Vaksin ini dinilai memiliki tingkat efektivitas lebih tinggi yaitu diatas 90%. Vaksin yang diproduksi Pfizer dan BioNTech bekerja dengan cara menginstruksi sel untuk memproduksi antigen SARS-CoV-2. Cara tersebut akan merangsang respon kekebalan tubuh terhadap virus. Vaksin ini dapat diberikan oleh orang yang berusia 16 tahun atau lebih. Dosis yang diberikan sebanyak dua kali dengan jarak waktu 21-28 hari setelah pemberian dosis pertama. Efek samping diantaranya sakit kepala, nyeri pada area suntikan, nyeri otot dan nyeri sendi. Gejala demam akan terjadi saat dosis kedua telah diberikan.
  6. Vaksin Johnson & Jhonson
    Janssen Pharmaceuticals Companies of Johnson & Johnson telah mengembangkan vaksin varian Johson & Johson atau disingkat JJ merupakan tipe vaksin COVID-19 non-replicated viral vector. Jenis vaksin ini menggunakan adenovirus (Ad26) sebagai pembawa antigen SARS-CoV-2. Setelah disuntikan vaksin akan merangsang dan membentuk antibodi didalam tubuh. Vaksin ini hanya dapat diberikan kepada orang yang berusia 18 tahun ke atas. Efek yang dirasakan setelah pemberian vaksin JJ yaitu sakit kepala, mual, rasa lelah, nyeri otot dan nyeri pada area suntikan.

Demikian penjelasan mengenai Covid-19 dan jenisnya. Dengan adanya informasi ini kamu dapat lebih berhati-hati lagi jika kamu mengalami gejala-gejala awal yang kamu rasakan.

Baca juga : 5 Temuan Para Ilmuwan di Sumur “Neraka” Yaman

Penulis :

Muttyara Kintan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apa itu RuangInspirasi.com ?

X